JAKARTA – Homoseksual atau liwath merupakan salah satu pembahasan yang memiliki ketentuan khusus dalam ajaran Islam. Dalam literatur fikih dan penjelasan para ulama, perbuatan liwath dibahas sebagai perbuatan yang dilarang dan memiliki ancaman yang berat, sehingga penting bagi seorang muslim untuk memahami pandangan syariat mengenai persoalan tersebut.
Mengenai perbuatan Liwath (Homoseksual), Amr bin Dinar mengatakan,
هُوَ شَرٌّ مِنَ الزِّنَا
“Perbuatan tersebut lebih buruk daripada zina!”
Beliau juga pernah mengatakan,
إِذَا قَالَ الرَّجُلُ لِلرَّجُلِ: يَا لُوطِيُّ، فَهَذَا أَشَدُّ مِنَ الزِّنَا
“Apabila ada seseorang berkata kepada orang lain, ‘Wahai pelaku Liwath!’ Sungguh, ucapan ini jauh lebih parah daripada panggilan kepada pelaku zina.”
Alih Bahasa
Abu Yusuf Wisnu Prasetya, S.H.
Lihat: At-Tawa’ud bi ar-Rajm wa as-Siyaath li Faa’il al-Liwaath, hal. 192, karya Yusuf bin Hasan bin Abdul Hadi Ibnu al-Mibrad al-Hanbali.



