MACAM-MACAM ZIKIR, HUKUM, DAN KEUTAMAANNYA

Amal Banyak Tapi Tidak Mengubah Akhlak MACAM-MACAM ZIKIR, HUKUM, DAN KEUTAMAANNYA

JAKARTA – Macam-macam zikir dalam Islam memiliki kedudukan yang sangat penting dalam kehidupan seorang muslim. Zikir tidak hanya menjadi amalan yang dianjurkan dalam berbagai keadaan, tetapi pada kondisi tertentu juga dapat berhukum wajib sesuai tuntunan syariat.

Mukadimah

Segala puji bagi Allah, selawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah. Artikel ini mengkaji tentang kedudukan zikir dalam Islam, ragam hukumnya, karakteristik zikir seorang mukmin dibandingkan dengan orang munafik, serta keutamaan-keutamaan zikir berdasarkan dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah.

1. Jenis-jenis Zikir dan Hukumnya

Zikir kepada Allah Ta’ala memiliki ragam hukum bergantung pada jenis dan kondisinya. Zikir dapat berhukum wajib seperti takbiratul ihram dalam salat, dan pada umumnya berhukum sunah (mustahab).

Terkait perincian hukum zikir, para ulama pakar fikih telah memberikan penjelasan yang komprehensif:

الذكر محبوب مطلوب من كل أحد مرغب فيه في جميع الأحوال، إلا في حال ورد الشرع باستثنائها، كحال الجلوس على قضاء الحاجة، وحال سماع الخطبة… وقد يكون واجبا، ومن الذكر الواجب بعض أذكار الصلاة، كتكبيرة الإحرام وقراءة القرآن… وقد يكون الذكر حراما، وذلك كأن يتضمن شركا، كتلبية أهل الجاهلية… وقد يحرم الذكر في أحوال خاصة كالذكر في حال خطبة الجمعة.

Terjemahan:

“Zikir adalah ibadah yang disukai dan dituntut dari setiap orang, serta dianjurkan dalam segala keadaan, kecuali pada keadaan-keadaan yang dikecualikan oleh syariat, seperti saat sedang buang hajat dan saat mendengarkan khutbah.

Dalil kesunahannya adalah bahwa Allah memerintahkannya dalam banyak ayat, melarang kebalikannya yaitu lalai dan lupa, mengaitkan keberuntungan dengan zikir yang berkesinambungan dan banyak…

Zikir juga bisa berhukum wajib. Di antara zikir yang wajib adalah sebagian zikir dalam salat, seperti takbiratul ihram dan membaca Al-Qur’an. Termasuk zikir wajib (kifayah) adalah azan dan iqamah, menjawab salam, serta membaca basmalah saat menyembelih hewan.

Zikir juga bisa berhukum haram, yaitu apabila mengandung kesyirikan, seperti talbiyahnya kaum Jahiliyah, atau mengandung unsur merendahkan (Allah)… Dan zikir juga bisa diharamkan pada kondisi-kondisi khusus, seperti berzikir di saat (imam sedang) khutbah Jumat.”

Referensi: Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah (21/222).

Seorang mukmin yang mendirikan salat dan menjaga kewajiban-kewajibannya tidak akan pernah terlepas dari zikir kepada Allah, baik itu zikir di dalam salat, setelah salat, maupun di waktu lainnya. Sudah sepatutnya dia tidak lepas dari zikir saat makan, minum, masuk dan keluar rumah, serta merutinkan zikir pagi, petang, dan sebelum tidur.

2. Apakah Sedikit Berzikir Menandakan Kemunafikan?

Seorang munafik yang menyembunyikan kekafiran dan menampakkan keislaman—atau mereka yang ragu terhadap agamanya—tidak akan bersemangat dalam berzikir. Mereka tidak merasa tenang dengannya, dan tidaklah mereka melakukannya kecuali karena riya’ (pamer) dan kemunafikan.

Dalil Al-Qur’an tentang Zikir Orang Munafik

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَى يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا

Terjemahan:

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk salat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan salat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.”

Referensi: QS. An-Nisa: 142.

Penjelasan Ulama Tafsir

1. Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah

قوله: وإذا قاموا إلى الصلاة قاموا كسالى يراءون الناس ولا يذكرون الله إلا قليلا : هذه صفة المنافقين في أشرف الأعمال وأفضلها وخيرها، وهي الصلاة ؛ إذا قاموا إليها قاموا وهم كسالى عنها؛ لأنهم لا نية لهم فيها، ولا إيمان لهم بها، ولا خشية، ولا يعقلون معناها… وقوله: ولا يذكرون الله إلا قليلا أي: في صلاتهم لا يخشعون فيها، ولا يدرون ما يقولون، بل هم في صلاتهم ساهون لاهون…

Terjemahan:

“Firman Allah: ‘Dan apabila mereka berdiri untuk salat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan salat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali’. Ini adalah sifat orang-orang munafik dalam amal yang paling mulia, paling utama, dan paling baik, yaitu salat. Jika mereka mendirikannya, mereka melakukannya dengan malas, karena mereka tidak memiliki niat yang tulus di dalamnya, tidak memiliki keimanan, tidak ada rasa takut, dan tidak memahami maknanya…

Firman-Nya: ‘Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali’ artinya: dalam salat mereka, mereka tidak khusyuk dan tidak mengerti apa yang mereka ucapkan. Sebaliknya, mereka lalai, bermain-main, dan berpaling dari kebaikan yang ditujukan untuk mereka.”

Referensi: Tafsir Ibnu Katsir (2/438).

2. Abu Hayyan rahimahullah

قال الحسن: قَلَّ ؛ لأنه كان يعمل لغير الله. وقال قتادة: ما معناه إنما قل لكونه لم يقبله، وما رده الله فكثيره قليل، وما قبله فقليله كثير… والظاهر أن الذكر هنا هو باللسان، وأنهم قل أن يذكروا الله بخلاف المؤمن المخلص، فإنه يغلب على أحواله ذكر الله تعالى.

Terjemahan:

“Al-Hasan berkata: ‘Dikatakan sedikit karena ia beramal untuk selain Allah.’ Qatadah berkata: ‘Maknanya, amalnya menjadi sedikit karena tidak diterima. Apa yang ditolak oleh Allah, betapapun banyaknya, tetaplah sedikit; dan apa yang diterima-Nya, betapapun sedikitnya, adalah banyak.’ …

Pendapat yang kuat adalah bahwa zikir di sini adalah zikir dengan lisan, dan mereka memang jarang berzikir kepada Allah. Hal ini berbeda dengan mukmin yang ikhlas, di mana zikir kepada Allah mendominasi setiap keadaannya.”

Referensi: Al-Bahr Al-Muhith (4/110).

Kesimpulan

Seorang mukmin yang mencintai Allah dan Rasul-Nya serta meyakini kebenaran agamanya tidak akan pernah terlepas dari zikir. Meskipun dia mungkin termasuk orang yang sedikit berzikir, dia tidak serta-merta menjadi munafik (dalam artian nifak akbar yang dijelaskan di atas). Namun, dengan sedikit berzikir, dia telah kehilangan pahala yang sangat agung dan kebaikan yang berlimpah.

3. Keutamaan Zikir

Zikir memiliki faedah yang sangat luar biasa, di antaranya adalah memperbaiki hati, memberikan ketenangan, dan menghilangkan kekerasannya. Selain itu, zikir adalah amalan yang sangat ringan—hanya menggerakkan lisan—namun mendatangkan pahala yang sangat besar.

Dalil Ketenangan Hati

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

Terjemahan:

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)

أَفَمَنْ شَرَحَ اللَّهُ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ فَهُوَ عَلَى نُورٍ مِنْ رَبِّهِ فَوَيْلٌ لِلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُمْ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ أُولَئِكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

Terjemahan:

“Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Az-Zumar: 22)

4. Dalil-Dalil Syar’i tentang Keutamaan Zikir dari Al-Qur’an dan As-Sunnah

Imam An-Nawawi rahimahullah dalam kitabnya yang monumental, Riyadhus Shalihin, mengumpulkan dalil-dalil tentang keutamaan zikir dalam satu bab khusus.

A. Dalil Al-Qur’an

QS. Al-Ankabut: 45: “Dan sesungguhnya mengingat Allah (salat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain).” (وَلذِكْرُ الله أكْبَرُ)

QS. Al-Baqarah: 152: “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu.” (فَاذْكُرُونِي أذْكُرْكُمْ)

QS. Al-A’raf: 205: “Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” (وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً…)

QS. Al-Ahzab: 35: “…Laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (وَالذَّاكِرِينَ اللهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأجْرًا عَظِيمًا)

B. Dalil As-Sunnah (Hadis)

1. Dua Kalimat Ringan Berpahala Berat

كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ، ثَقِيلَتَانِ فِي المِيزَانِ، حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمانِ: سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ، سُبْحَانَ اللهِ العظيمِ

Terjemahan:

“Dua kalimat yang ringan di lisan, berat di timbangan (amal), dan dicintai oleh Ar-Rahman: Subhaanallahi wabihamdih, Subhaanallahil ‘Azhiim.”

Referensi: Muttafaqun ‘Alaih (Riwayat Bukhari dan Muslim).

2. Lebih Baik dari Dunia dan Seisinya

لأَنْ أَقُولَ: سُبْحَانَ اللهِ؛ وَالحَمْدُ للهِ؛ وَلاَ إلهَ إِلاَّ اللهُ، وَاللهُ أكْبَرُ، أَحَبُّ إلَيَّ مِمَّا طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ

Terjemahan:

“Sungguh, aku mengucapkan: Subhaanallah, walhamdulillah, wa laa ilaaha illallah, wallaahu akbar, itu lebih aku cintai daripada segala sesuatu yang matahari terbit di atasnya (dunia seisinya).”

Referensi: HR. Muslim.

3. Keutamaan Tahlil 100 Kali

مَنْ قَالَ: لا إلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَريكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ؛ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، في يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ كَانَتْ لَهُ عَدْلَ عَشْرِ رِقَابٍ وكُتِبَتْ لَهُ مِائَةُ حَسَنَةٍ، وَمُحِيَتْ عَنْهُ مِائَةُ سَيِّئَةٍ، وَكَانَتْ لَهُ حِرْزًا مِنَ الشَّيْطَانِ يَوْمَهُ ذَلِكَ حَتَّى يُمْسِي…

Terjemahan:

“Barangsiapa membaca: Laa ilaaha illallaah wahdahu laa syariika lah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘alaa kulli syai-in qadiir dalam sehari 100 kali, maka baginya setara dengan memerdekakan sepuluh budak, dicatat baginya 100 kebaikan, dihapus darinya 100 keburukan, dan zikir tersebut menjadi benteng baginya dari setan pada hari itu hingga petang…”

Referensi: Muttafaqun ‘Alaih.

4. Penghapus Dosa Walau Sebanyak Buih di Lautan

مَنْ قَالَ: سُبْحَانَ الله وَبِحَمْدِهِ، في يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ، حُطَّتْ خَطَايَاهُ، وَإنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ البَحْرِ

Terjemahan:

“Barangsiapa membaca: Subhaanallahi wabihamdih dalam sehari 100 kali, maka dosa-dosanya akan dihapuskan meskipun sebanyak buih di lautan.”

Referensi: Muttafaqun ‘Alaih.

5. Zikir yang Paling Dicintai Allah

ألاَ أُخْبِرُكَ بِأَحَبِّ الكَلاَمِ إِلَى اللهِ؟ إنَّ أَحَبَّ الكَلاَمِ إِلَى اللهِ: سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ

Terjemahan:

“Maukah aku beritahukan kepadamu perkataan yang paling dicintai oleh Allah? Sesungguhnya perkataan yang paling dicintai oleh Allah adalah: Subhaanallahi wabihamdih.”

Referensi: HR. Muslim.

Penutup

Bagi siapa saja yang merenungkan pahala agung dan berlimpah yang dijanjikan atas kalimat-kalimat yang ringan ini, niscaya dia akan mengetahui besarnya keutamaan zikir. Sangat pantas bagi setiap muslim dan muslimah untuk senantiasa menjaga zikir, membasahi lisannya dengan mengingat Allah, dan memenuhi buku catatan amalnya dengan kalimat-kalimat yang indah tersebut.

Semoga Allah memberikan taufik kepada kita semua untuk senantiasa menjadi hamba-hamba-Nya yang banyak berzikir.

Oleh Abu Utsman Surya Huda Aprila

Sumber: https://islamqa.info/ar/answers/253005/%D9%81%D8%B6%D9%84-%D8%B0%D9%83%D8%B1-%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87

Related Posts

  • All Post
  • Doa-Doa
  • Kajian Islam
  • Khotbah Jumat
  • Muamala
  • Tanya Ulama
    •   Back
    • Akhlak
    • Fiqih
    • Hadis
    • Sirah Sahabat
    • Tafsir
    • Umum
    •   Back
    • Allah
    • Malaikat
    • Kitab
    • Rasul
    • Hari kiamat
    • Takdir
    •   Back
    • Sholat
    • Zakat
    • Puasa
    • Haji (Umrah)
    •   Back
    • Rukun Islam
    • Rukun Iman
    • Umum
    • Sholat
    • Zakat
    • Puasa
    • Haji (Umrah)
    • Allah
    • Malaikat
    • Kitab
    • Rasul
    • Hari kiamat
    • Takdir
Edit Template

Yuk Subscribe Kajian Sunnah

You have been successfully Subscribed! Ops! Something went wrong, please try again.

Popular Posts

No Posts Found!

Trending Posts

No Posts Found!

© 2024 Kajiansunnah.co.id